Teman Baruku
Kemarin aku ketinggalan kereta terakhir ke apartmentku. Dan bukanlah hal yang enak untuk bermalam di jalanan sepanjang malam. Walaupun aku tahu hal itu, kemarin tidak ada terlintas sedikitpun di benakku untuk pulang dengan taksi. Sayang sekali kalau harus mengeluarkan sekitar 10 ribu yen untuk ongkos taksi dari Shibuya ke apartmentku. Lebih baik kusimpan 10 ribu yen pemberian temanku untuk ongos taksi dan bermalam di jalanan Shibuya, sambil menikmati Tokyo malam. Well, sebenarnya aku sudah menolak uang pemberian temanku tersebut, dan mengatakan bahwa mungkin aku akan bermalam di jalanan, tapi karena mereka terus memaksa.
Aku duduk-duduk di pinggir jalanan, sambil mendengarkan musik dari DJ jalanan. Shibuya malam, masih saja tetap lautan manusia, walaupun tidak sepadat siang hari tentu saja. Sialnya pertunjukan DJ jalanan itu tidak berlangsung lama, sekitar pukul 2 pagi, kulihat ia mulai mengemasi peralatannya dan bersiap-siap pulang. Tinggal aku yang masih harus menunggu sekitar 3 jam lagi untuk kereta pertama menuju apartementku.
Kuputuskan untuk mencoba Starbucks Coffee. Tertulis di pintu masuknya, sampai jam 2 AM. Tapi suasana di dalam masih lumayan ramai. Aku masuk saja, memesan segelas Rumba Flappucino. Saking capainya aku tertidur di meja. Waktu kulirik G-Shock kuningku ketika aku bangun, angka-angka digital itu sudah menunjukkan 03:00. Kulihat cafe sudah mulai sepi, dan para pelayan sudah mulai dengan pekerjaan beres-beres nya. Sebelum diusir, mendingan aku keluar saja pikirku.
Melangkah tak ada tujuan, akhirnya aku sampai di depan exit Hachiko stasiun Shibuya. Masih lumayan ramai disini. Pasangan-pasangan yang kemungkinan besar juga ketinggalan kereta, berbaur dengan para homeless bertebaran di taman kecil di situ. Beberapa traveller-traveller tak berduit juga kelihatan sedang melewati malam mereka disitu.
Bosan menunggu pagi, kutegur seorang bule berkacamata hitam yang duduk di sebelahku. Setelah berbicara sekitar 10 menit akhirnya aku baru tahu bahwa alasan dia memakai kaca mata hitam di saat gelap gulita seperti itu bukanlah untuk gaya-gayaan, tapi memang dia perlu kacamata untuk rabun jauhnya, dan satu-satunya yang ia miliki hanya sunglasses tersebut.
Namanya Wes, katanya dia dari LA. Dan baru sampai di Jepang kira-kira 2 hari yang lalu. Senang sekali rasanya bisa ketemu dengan foreigner di Jepang, dimana kita bisa merasa senasib berada di negeri orang. Mungkin karena perasaan senasib sesama traveller, aku menawarinya untuk istirahat di apartmentku. Sedikit sangsi juga tentu saja, karena bagaimanapun juga aku baru kenal dia kira-kira 1 jam. Tapi kita harus melihat segalanya dari sisi positif, right?
Anyway, aku merasa seperti seorang santo hari ini ketika aku mengantarnya kembali ke stasiun, dan dia mengucapkan terima kasih untuk tempat tidur 5 jam di apartmentku. Yah dunia akan menjadi tempat yang indah sekali kalau semua orang saling peduli akan sesama.