Sunday, June 03, 2001

Penyakit Bulan Lima



Go Gatsu Byo, kata orang Jepang. Mungkin karena perubahan dari musim semi ke musim panas, badan terasa tidak bersemangat. Pasti akan berguna sekali kalau ada yang pernah mensurvey tingkat ketidakhadiran siswa di bulan lima. Entah sudah berapa kali aku bolos sekolah di bulan lima, menurut aku sih hanya kemalasan diri sendiri yang mencari pembenaran dengan Go Gatsu Byo.

Bulan lima praktis aku tidak mengalami kemajuan apapun juga. Buku-buku komputer banyak yang kupesan dari amazon.co.jp tapi tidak ada satupun yang habis kubaca. Selain itu sifat panas-panas taik ayam aku juga mulai kambuh di bulan lima. Mulai dari keranjingan Stephen Hawking, SEAL, stereo set, menggambar, jam tangan Luminox, sepeda motor, Zippo, dan yang terakhir sepeda balap. Ironisnya tidak ada yang bertahan lebih dari seminggu. Sampai yang terakhir, aku tidak tahan untuk tidak membeli sepeda balap seharga 100 ribu yen.

Manusia memang butuh Go Gatsu Byo sebagai tempat penyaluran. Butuh sesuatu untuk disalahkan dikala mereka sudah jenuh. Dan perubahan musimlah yang jadi sasaran.

Tuesday, February 27, 2001

NHK



Musim dingin memang menyebalkan! Dulu aku sering heran kenapa banyak binatang yang tidur sepanjang musim dingin. Setiap musim dingin pasti beratku bertambah paling sedikit 2 kilo. Yah, karena tidak ada sekolah, praktis rutinitas sehari-hariku hanya di rumah saja. Coding, makan, tidur, break sebentar nonton TV, coding lagi, makan, tidur. Terkadang aku tidak tahu apakah hari sedang siang atau malam.

Anyway hari ini ada bel di pintu, sesuatu yang sangat jarang sekali. Bel tanpa interfon terlebih dulu. Mengingatkanku akan penagih iuran NHK. Dasar tolol, padahal sudah berkali-kali kuingatkan kepada diri sendiri supaya tidak membuka pintu kalau ada bel tanpa interfon, karena penasaran kubuka saja. Dan, voila, ternyata si ojisan penagih iuran NHK.

"NHK no shuukin desu", katanya.
10 detik kupandangi saja dia tanpa berkata apa-apa. Selain karena masih setengah sadar karena baru bangun tidur, juga karena tidak tahu apa yang harus kulakukan. Berat juga rasanya membayar 2900 yen untuk stasiun TV pemerintah yang sama sekali tak pernah kutonton. Akhirnya kututup saja pintu tanpa berkata apa-apa. Dengan berat kukeluarkan 3000 yen dari dompetku. Merasa berat untuk membayar, aku duduk berpikir selama 3 menitan. Akhirnya kuputuskan untuk mengatakan tidak ada uang. Pas kubuka pintu, ternyata si penagih iuran tersebut sudah tidak disana lagi.

Besok kalau ada bel tanpa interfon lagi, aku sudah tau yang harus kulakukan!

Friday, December 15, 2000

Saat Untuk Bertindak



Seminggu ini aku jarang keluar rumah, bahkan karena pelajaran pokok di sekolah banyak yang libur minggu ini, terkadang aku sama sekali tidak pergi ke sekolah jadinya. Waktu 2 jam yang selalu kuhabiskan untuk pulang-pergi sekolah terlalu berharga untuk pelajaran-pelajaran sampah macam Pengantar Distribusi, Filosofi, Bahasa Inggris, dan beberapa lagi pelajaran-pelajaran lainnya.

Yah, minggu ini kuhabiskan dengan membaca buku-buku yang kupesan dari amazon.co.jp. Membaca tentang 1010110, tentang socket, deadlock, zombie, exec, multithreaded, algorithm, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan itu. Aku harus mengejar ketinggalanku! Sudah saatnya berhenti berkhayal, sudah saatnya untuk bertindak. Perkataan yang seharusnya aku ucapkan 4 tahun yang lalu. Dan sebenarnya, selama itu pula aku terus dihantui perasaan bersalah. Terus saja terngiang di telingaku kata-kata yang sering diucapkan oleh orang yang paling kusegani, idolaku, panutan hidupku, ayahku, "Jangan tunggu sampai besok!" Tapi sekarang aku sudah bisa bilang, "Aku sudah kerjakan apa yang bisa aku kerjakan hari ini!"

Wednesday, September 20, 2000

Back to School



Sudah 3 hari ini aku mempraktekkan ajaran hidup sehat. Tidur jam 8 malam, bangun jam 4 pagi. Bukan karena apa-apa, tapi karena sekolahku sudah dimulai sejak 3 hari yang lalu. Hari pertama, begitu takutnya aku terlambat ke sekolah (karena sudah seminggu lebih aku tidur pagi, dan bangun malam), aku tidak tidur seharian dua hari sebelum buka sekolah. Dengan pikiran, aku akan capek sekali, dan tidur cepat malamnya. Untungnya strategiku berhasil.

Tidak banyak yang berubah di sekolahku. Antrian di depan halte bis menuju sekolah - walaupun aku lebih memilih berjalan 30 menit daripada harus membayar 170 yen untuk tumpangan 10 menit. Anak-anak China, dan Taiwan yang masih saja bergerombol di student hall. Ibu-ibu tukang masak di dormitory yang siangnya mencari tambahan yen dengan berjualan bento di student hall. Guru programming yang tetap saja gendut.

Senang sekali rasanya back to school lagi. Lain dengan di negara lain, di Jepang mahasiswa enjoy sewaktu mereka di universitas. Katanya mereka sudah belajar mati-matian dari SD sampai SMA, dan berhak untuk enjoy selama 4 tahun sebelum kerja mati-matian lagi setelah lulus dari universitas. Suasana santai benar-benar terasa di universitas Jepang, kegiatan ekstra yang sebrek, mulai dari klub fotografi, panjat tebing, sepak bola, karate, judo, sampai klub yang kerjanya pesta-pesta saja. Dan menurut survey kabarnya 90% dari mahasiswa di Jepang tergabung dalam suatu klub. Bandingkan dengan hanya 7% di Amerika.

Anyway, yang terasa berubah setelah summer holiday adalah, cuaca yang tidak menyengat lagi, daun-daun yang mulai berguguran, beberapa samugariya (orang yang tidak tahan dingin) yang sudah mulai mengenakan jaket ke sekolah, sudah jarang kelihatan cewek-cewek bertanktop dan berkolor ria, dan AC yang hanya kadang-kadang saja dihidupkan.

Saturday, September 16, 2000

Derita Dikala Hujan



Sudah seminggu ini terus-terusan hujan di Tokyo. Yang paling kubenci adalah ketika aku harus naik sepeda sehabis hujan. Iya, walaupun sepedaku keren, MTB merk Giant dengan 21 gear yang kubeli seharga 25 ribu yen, tapi sadelnya bolong! Makanya air hujan yang meresap ke busa sadel itu tidak bisa kering-kering. Dan aku harus berdiri sepanjang perjalanan kalau tidak mau celanaku basah. Sialan, ini sebenarnya gara-gara Park, cewek Korea teman se-dormitory waktu aku masih tinggal disana tahun lalu. Masih ingat aku waktu dia dengan lutut lecet-lecet mengembalikan kunci sepeda sambil bilang "Gomennasai ne" dengan logat Koreanya.

Ngomong-ngomong, kemarin pertama kalinya aku mengalami mati listrik di Jepang. Pagi kemarin memang hujannya lebat sekali, dan petirnya, yang terbesar kedua yang pernah kulihat seumur hidupku (yang terbesar pertama adalah petir Bogor). Sempat 5 kali listrik padam nyala. Walaupun hanya sekitar 10 detik saja setiap kali padamnya. Beda sekali dengan di Indonesia, apalagi di kota tercintaku yang kadang-kadang bisa sampai 2 hari penuh (walaupun sekarang udah jarang).

Gara-gara hujan jugalah nama Asakawa yang artinya sungai dangkal sekarang tidak cocok lagi dengan kenyataanya. Sungai dekat rumahku yang biasanya cuman selebar 6 meter itu sekarang sudah melebar jadi 50 meter. Warna airnya juga sudah tidak bening tembus pandang sampai ke dasarnya lagi, tapi sudah coklat berlumpur seperti sungai-sungai waktu banjir yang kita lihat di TV.

Tapi ada juga enaknya hujan, paling tidak aku bisa tidur tanpa AC di saat summer seperti ini.

Monday, September 11, 2000

Natsu Otoko



Tokyo hari ini hujan sepanjang hari. Cuaca sudah mulai dingin, sebentar lagi musim gugur akan tiba. Sudah tidak terdengar lagi suara-suara semi yang terkadang menjengkelkan juga. Panasnya matahari sebentar lagi akan digantikan dengan sejuk musim gugur, sebelum dibenam oleh dinginnya musim dingin. Udara lembab ini sebentar lagi akan digantikan oleh angin beku yang kering. Peluh dari pori-pori ini sebentar lagi akan digantikan oleh asap dari hidung dan mulut.

Aku benci musim dingin di Tokyo, dimana kita tidak bisa ke pantai. Dimana kita harus memakai coat yang menjengkelkan. Dimana kita harus menyalakan heater yang bikin kering kerongkongan. Dimana tidak ada orang yang duduk-duduk di taman. Dimana kereta sering tidak tepat waktu karena salju. Dimana tidak ada cewek-cewek berpakain minim. Dimana tidak ada matsuri, tidak ada hanabi. Dimana nikmatnya bir dingin menjadi berkurang.

Kata orang Jepang, aku ini natsu otoko.

Orang-Orang Hina



Orang itu memang banyak sekali jenisnya. Tapi yang paling kubenci adalah orang tak tahu berterima-kasih, yang sudah dikasih hati minta jantung. Orang-orang tipe ini adalah orang yang tidak patut dikasihani. Mereka ini tidak pernah memikirkan orang lain, yang ada didalam otak dangkalnya itu hanyalah AKU, AKU dan AKU.

Mungkin juga orang-orang sejenis ini menjadi seperti ini karena pengaruh lingkungannya, selain mungkin karena ukuran otak yang berbeda. Orang-orang sejenis ini bisa terdapat dimana saja, mereka bisa berwujud pengusaha, penjudi, jaksa, sopir angkot, tukang jamu, menteri, bahkan presiden.

Kadang-kadang orang menjadi seperti ini karena ia merasa enak sekali sewaktu mendapat bantuan, sehingga bukannya berterima kasih, sebaliknya malah mengharapkan yang lebih, lebih dan lebih. Mereka ini seharusnya lebih memahami lagi bahwa hidup itu adalah perjuangan, hidup itu keras.

Sunday, September 10, 2000

Insomnia, Liburan, dan Internet



Selain teman-teman yang kebanyakan pada pulang kampung, yang kubenci dari liburan adalah insomnia, ya benar penyakit tidak bisa tidur. Seperti juga liburan-liburan tahun sebelumnya, tahun ini juga tidak banyak berbeda. Yah, aku tidur waktu matahari mulai menunjukkan keperkasaannya di musim panas.

Sebenarnya sudah banyak cara kucoba, diantaranya dengan menahan kantuk sepanjang hari dengan harapan bisa tidur dengan cepat pada malam harinya. Tapi sia-sia saja. Semakin malam, semakin segar saja rasanya badan ini. Mungkin ini ada hubungannya dengan jam kelahiranku yang katanya jam 2 malam. Makin tidak sabar saja rasanya menunggu waktu buka sekolah yang tinggal sekitar 1 minggu ini.

Mungkin karena bukan merupakan kewajiban untuk bangun pagi di saat liburan, susah sekali rasanya untuk bisa menikmati secangkir susu, roti panggang, koran pagi, sebatang Mild Seven, dengan wajah dan badan segar. Kebalikannya yang sering adalah, menikmati semua itu pada saat menjelang tidur karena jam tidur yang pindah ke jam 7 pagi.

Tahun lalu seingatku tidak separah ini, karena setidaknya summer tahun lalu aku pergi liburan ke Toyama. Ah, kurasa aku tahu penyebabnya sekarang. Mungkin karena komputer dan Internet sialan ini! Karena kalau dipikir-pikir, kenapa kalau tidak ada Internet di tempat di mana aku menginap, atau kalaupun ada, situasi di tempat tersebut tidak mengizinkan browsing web untuk membaca berita-berita lucu politikus tanah air , berita-berita aneh tapi nyata tentang sontoloyo-sontoloyo yang duduk di pemerintahan di tanah air, berita-berita tentang komputer, musik, dan segala macam semalam suntuk, maka penyakitku pasti tidak datang.

Menyesal juga kenapa hari itu tidak jadi ke Bali!

Teman Baruku



Kemarin aku ketinggalan kereta terakhir ke apartmentku. Dan bukanlah hal yang enak untuk bermalam di jalanan sepanjang malam. Walaupun aku tahu hal itu, kemarin tidak ada terlintas sedikitpun di benakku untuk pulang dengan taksi. Sayang sekali kalau harus mengeluarkan sekitar 10 ribu yen untuk ongkos taksi dari Shibuya ke apartmentku. Lebih baik kusimpan 10 ribu yen pemberian temanku untuk ongos taksi dan bermalam di jalanan Shibuya, sambil menikmati Tokyo malam. Well, sebenarnya aku sudah menolak uang pemberian temanku tersebut, dan mengatakan bahwa mungkin aku akan bermalam di jalanan, tapi karena mereka terus memaksa.

Aku duduk-duduk di pinggir jalanan, sambil mendengarkan musik dari DJ jalanan. Shibuya malam, masih saja tetap lautan manusia, walaupun tidak sepadat siang hari tentu saja. Sialnya pertunjukan DJ jalanan itu tidak berlangsung lama, sekitar pukul 2 pagi, kulihat ia mulai mengemasi peralatannya dan bersiap-siap pulang. Tinggal aku yang masih harus menunggu sekitar 3 jam lagi untuk kereta pertama menuju apartementku.

Kuputuskan untuk mencoba Starbucks Coffee. Tertulis di pintu masuknya, sampai jam 2 AM. Tapi suasana di dalam masih lumayan ramai. Aku masuk saja, memesan segelas Rumba Flappucino. Saking capainya aku tertidur di meja. Waktu kulirik G-Shock kuningku ketika aku bangun, angka-angka digital itu sudah menunjukkan 03:00. Kulihat cafe sudah mulai sepi, dan para pelayan sudah mulai dengan pekerjaan beres-beres nya. Sebelum diusir, mendingan aku keluar saja pikirku.

Melangkah tak ada tujuan, akhirnya aku sampai di depan exit Hachiko stasiun Shibuya. Masih lumayan ramai disini. Pasangan-pasangan yang kemungkinan besar juga ketinggalan kereta, berbaur dengan para homeless bertebaran di taman kecil di situ. Beberapa traveller-traveller tak berduit juga kelihatan sedang melewati malam mereka disitu.

Bosan menunggu pagi, kutegur seorang bule berkacamata hitam yang duduk di sebelahku. Setelah berbicara sekitar 10 menit akhirnya aku baru tahu bahwa alasan dia memakai kaca mata hitam di saat gelap gulita seperti itu bukanlah untuk gaya-gayaan, tapi memang dia perlu kacamata untuk rabun jauhnya, dan satu-satunya yang ia miliki hanya sunglasses tersebut.

Namanya Wes, katanya dia dari LA. Dan baru sampai di Jepang kira-kira 2 hari yang lalu. Senang sekali rasanya bisa ketemu dengan foreigner di Jepang, dimana kita bisa merasa senasib berada di negeri orang. Mungkin karena perasaan senasib sesama traveller, aku menawarinya untuk istirahat di apartmentku. Sedikit sangsi juga tentu saja, karena bagaimanapun juga aku baru kenal dia kira-kira 1 jam. Tapi kita harus melihat segalanya dari sisi positif, right?

Anyway, aku merasa seperti seorang santo hari ini ketika aku mengantarnya kembali ke stasiun, dan dia mengucapkan terima kasih untuk tempat tidur 5 jam di apartmentku. Yah dunia akan menjadi tempat yang indah sekali kalau semua orang saling peduli akan sesama.